Sebanyak 151 RW di Kota Bandung akan dijadikan percontohan
kegiatan pertanian perkotaan atau urban farming pada 2014 ini. Urban farming
memanfaatkan pekarangan dan lahan kosong yang ada di rumah warga untuk ditanami
sayuran atau tanaman hias.
Pada tahun 2014, Pemkot Bandung akan meningkatkan kegiatan
pertanian perkotaan atau urban farming di tiap kelurahan ada satu RW
percontohan. Dengan begitu akan ada 151 RW yang dijadikan percontohan urban
farming.
"Komoditas yang dikembangkan untuk urban farming ini
antara lain cabe merah, cabe rawit, dan tomat, yaitu jenis sayuran yang memang
harganya seringkali bergejolak," ujar Elly kepada wartawan.
Urban farming, akan memanfaatkan lahan pekarangan, dak-dak,
dan lahan kosong di RW percontohan untuk ditanami agar tak ada lahan yang
kosong. Jenis tanamannya sayuran dan tanaman hias. Hal ini untuk memenuhi
pangan keluarga. "Pemenuhan keluarga seperti cabe, tomat, dan sawi, bisa
dipasok dari lahannya sendiri," kata Elly.
Dispertan, akan memberikan bantuan benih, dan sarananya
seperti pupuk dan rak-rak vertikultur. Sebelum pelaksanaan, akan dilakukan
sosialisasi pada semua RW agar mereka mengerti manfaat urban farming.
"Nilai anggaran semuanya, dengan sosialisasi untuk satu RW sebesar Rp50 juta,"
ungkap Elly.
Untuk RW percontohan, ditentukan pihak kelurahan. Tiap RW
rata-rata ditempati 500 rumah warga, dan mereka harus terlibat dalam program
urban farming ini. "Kami akan buat surat
ke kelurahan agar pihak kelurahan mengajukan satu RW yang bisa dijadikan
percontohan," kata Elly.
Saat ini, kegiatan urban farming sudah dilakukan di RW 02
Kel. Arjuna, Kec. Cicendo. RW 02 ini dijadikan lokasi percontohan pada 2013.
Sekarang mereka sudah panen, sayuran yang ditanam di sana sawi hijau, kangkung, pakcoy, cabe
rawit. Hasil panennya minimal untuk kebutuhan pangan warga.
Diakui Elly, urban farming ini merupakan program unggulan
Dispertan pada 2014. Selain bisa memenuhi kebutuhan pangan warga, keberadaan
urban farming juga bisa menambah ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung .
"Kita libatkan RW untuk memotivasi warga supaya bantuan
dari pemkot ini bisa bermanfaat dan menghasilkan," kata Elly.
Sebelumnya, Pemkot Bandung meluncurkan program sejuta sumur
biopori yang ditargetkan akan terwujud awal Desember mendatang. Sumur biopori
berfungsi untuk membersihkan gorong-gorong dan menurunkan volume air yang akan
turun ke jalan. Namun, sayangnya hingga awal 2014 ini target sejuta biopori
tersebut tidak terwujud.
"Ini upaya kita untuk mewujudkan kebersihan di Kota Bandung .
Selain itu, sumur biopori ini juga bisa meningkatkan kualitas air tanah,"
kata Walikota Bansung Ridwan Kamil kepada wartawan, Senin (4/11).
Untuk memenuhi target tersebut, pemkot akan bekerja sama
dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kebetulan TNI memiliki program yang
bernama "Gerakan TNI masuk Kampung".
"Kita akan bekerja sama dengan TNI untuk membuat sejuta
sumur biopori. Nantinya anggota TNI akan membantu warga dalam membuat sumur
biopori. Selain itu, juga akan dibantu relawan biopori yang akan diberi rompi
hijau yang juga untuk relawan lingkungan," ujarnya.
Ridwan Kamil menargetkan setiap RT bisa membuat 100-120
sumur biopori. Dengan jumlah RT sekitar 9.600, maka jumlah 100-120 per RT bisa
memenuhi target sejuta sumur biopori.
"Jika dihitung kembali, maka setiap rumah akan
dibuatkan tiga sumur biopori. Jadi, sejuta sumur biopori bisa diwujudkan pada
awal Desember mendatang," terangnya.
Untuk itu, pihaknya meminta partisipasi dari aparat
kewilayahan dan masyarakat Kota Bandung. Karena tanpa bantuan masyarakat,
progam ini akan sulit terwujud. Program ini tidak akan lepas dari partisipasi
aparat kewilayahan dan warga Kota Bandung secara keseluruhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar