Kondisi hati setidaknya ada 3 macam:
1. Qolbun Salim
Adalah Hati yang selamat dari syahwat perintah dan larangan Allah dan selamat dari syubhat yang bertentangan dengan hukum Allah.
Contoh hati yang belum sehat, ingin sholatnya dirumah dan ragu-ragu pergi ke mesjid mending di rumah lumayan cepat. Misalkan lagi, Allah perintahkan menikah, eh dia inginnya "jajan" gak mau repot mencari nafkah dan mengurus anak. Atau hp yang masih banyak, tetapi masih tergerak untuk membeli keluaran baru padahal yang lama masih berfungsi, karena niatnya pamer dan prestise. Hati-hati dengan pakaian kalau dibuat pamer, kalau niatnya pamer malah bisa berdosa.
Ciri dari hati yang sehat adalah tidak banyak keinginan dan tidak ragu-ragu akan setiap perintah Allah dan Rasulnya. Orientasinya untuk akhirat, dunia hanyalah sekedar mampir sekejap mata. Ibnu Umar pernah berkata: Jadilah engkau di dunia bagaikan orang asing (orang yang bepergian). Jadi Dunia bukanlah tujuan utamanya. Luruskan niatnya bekerja mencari karunia Allah, kalau harta yang dikejar hanya harta yang didapat, tapi kalau karunia Allah, insya Allah semua bisa didapat.
Orang yang hatinya bersih rindu kepada Allah. merasa sakit bila kehilangan taat kepada Allah. Ada seorang yang biasanya sholat jemaah di masjid, pergi naik angkot, kenapa tidak berhenti dulu untuk sholat, dia menyesal. Umar bin Khattab pernah terlena dengan kebun anggurnya menyebabkan beliau ketinggalan sholat berjamaah, maka setelahnya karena menyesal langsung disedekahkan kebunnya itu. Ibu terlalu semangat mengasuh anak sampai melalaikan shalat, apakah anaknya harus disedekahkan? #ehh itu mah jangan. Bapak ketinggalan sholat karena memandikan mobil, sedekahkan mobilnya? Tapi belum lunas #ehh.
Rasul pernah bersabda: Seandainya orang tahu keutamaan shaf pertama pasti mereka akan mengejar walaupun harus dengan merangkak. Orang yang cinta kepada Allah ingin selalu bertemu dengan Allah, berbisik-bisik dengan cara berzikir. Seperti sepasang muda-mudi dimadu asmoro memboro yang ingin bertemu terus-terusan melihat wajah sang kekasih, seperti sekuntum bunga yang baru mekar #eaaa.
Orientasi hati yang sehat bukan untuk makhluk tapi untuk Allah. Pernah zaman Rasul ada seorang ibu tua yang selalu membersihkan mesjid dan tidak dibayar. Beberapa waktu kemudian Rasul kembali kesana lalu bertanya ke sahabat: Ini yang Ibu suka membersihkan mesjid kemana, dengan entengnya sahabat menjawab sudah meninggal, lalu Rasul meminta ditunjukkan dimana kuburnya. Rasul datang dan mendoakannya.
Allah tidak melihat besar kecilnya amal tapi hatinya. Mulai dari amal yang kecil, tak peduli orang melihat nyinyir yang penting mengharap Ridho Allah. Seperti menyingkirkan batu atau paku di jalanan yang bisa membahayakan, Allah akan sangat berterima kasih dan diampuni dosa orang yang melakukannya. Orang berilmu seperti berjalan di siang hari, bisa mengenali keadaan sekitarnya dengan baik. Orang yang tidak berilmu seperti berjalan di malam hari dalam keadaan gelap gulita, harus meraba-raba dulu keadaan di sekitar, terbentur tiang listrik, terperosok ke lubang kehinaan #ehh parit maksudnya.
2. Qolbun Maridh
Hatinya masih hidup tapi berpenyakit, tapi masih bisa disehatkan Dia punya iman dalam satu segi kehidupan tapi mempunyai sifat tamak. Atau bisa juga disebut STMJ Sholat terus maksiat jalan. Pulang dari pengajian ngomongin orang, atau datang ke pengajian sambil pamer. Senin pake baju kuning, selasa hijau, rabu biru, sabtu warna hitam atasan hitam bawahan hitam sepatu hitam, giliran lipstik susah nyari yang hitam, adanya mehong/jelaga di bawah wajan di dapur wkwkwk.
Atau misalnya kaum remaja habis sholat lalu pacaran. Atau juga yang punya harta ada tapi kikir, kalaupun mau sedekah ingin ditulis saja diurutan pertama sebagai penyumbang utama, supaya kelihatan paling besar sedekahnya. Hati yang sakit sebenarnya mengetahui akan adanya akhirat dan alam kubur tapi menikmati sanjungan kalau ada yang memuji dan dendam kalau ada yang memusuhi.
Sholat mah sholat tapi balapan dengan sinetron cirambay bombay. Sholat ngebut malah balapan sama anaknya yang TK, yang alfatihahnya masih terbata-bata. Belum juga zikir langsung ngajleng nagog depan Televisi. Pas ditanya anaknya: kok cepet banget bu sholatnya melebihin adek? Diam kamu, ibu mah sudah sholat sebelum adek lahir...
3. Qolbun Mayit
Hati yang mati, hati yang tak mengenal tuhannya, menjadi hamba setan, sudah tidak mengenal dengan Allah. Bagi dia yang penting sesuatunya bisa didapat dengan menghalalkan segala cara. Tidak mengenal kebaikan dan keburukan. Tidak peduli orang tersakiti atau melanggar aturan. Kehidupannya dibawah nafsu dan amarah. Sudah punya barang bagus nambah lagi, niatnya ingin kaya dan kelihatan hebat. Selalu yang mengejaknya adalah nafsu tak ada urusan sama Allah.
Pembalakan liar di Kalimantan sampai kebakaran hutan dia tak peduli yang penting untung besar , tak peduli orang lain menderita lingkungan rusak. Koruptor tak peduli merugikan negara dan rakyat yang penting dai untung. Baik benar halal haram semuanya dilakukan hanya demi kesenangan dunia semata. Buat mereka, sholat dimasjid tidak akan menjadi kaya, buat apa baca quran mending baca koran.
Semuanya diukur dengan materi: haus akan penghormatan, penghargaan, ingin terkenal piopularitas itu juga menuhankan materi. Mereka hidupnya ingin lebih lama menumpuk harta sampai tua. Hatinya sudah mengeras. Hati2 dengan hati, kalau sudah terkotori akan sakit, kalau tidak terobati maka akan mati. Tidak akan bermanfaat harta jabatan keturunan dan tidak akan menjadikannya sehat kecuali kembali kepada Allah dengan hati yang selamat. Hati yang bersihlah yang akan diterima oleh Allah. Sesungguhnya yang jauh dari Allah adalah hati yang keras.
Ciri-Ciri Penyakit Hati : TENGIL
1. Takabbur/Sombong
Ketika dinasehatin banyak menentangnya dan susah menurut. Contoh nasehat anak ke orang tuanya: | Ibu Kalau ke pengajian tak usah banyak bawa barang dan perhisan segala, Ah terserah Ibu.| | Bapak tak usah sering jalan2 lebih baik ke masjid. Terserah bapak dong nak.| Atau orang tua ke anaknya: | a udah jangan terlalu sering main, bentar lagi ashar. terserah aing weh bu.| Lagi duduk lewat orang, kalau tidak punten/permisi marah, emang ini jalan nenek moyang lu teu punten2 acan.| Atau ibu2 yang sudah haji kalau disebut nama gak nengok2 tapi kalau dipanggil: Bu Hajjah langsung nengok: kahhhh, aya naon?
Ciri kesombongan adalah merendahkan sesama, mengungkit-ungkit asal daerah/kota, pangkat keturunan merasa paling hebat paling mulia. Bahaya takabbur adalah tidak akan masuk surga, walaupun sebesar biji sawi kesombongan.
2. Egois
Merasa paling benar / yang lain salah / ingin menang sendiri. Tidak menghiraukan pendapat orang lain. Misalnya ada yg merokok, yang sebelahnya asma, tapi terus saja dia merokok. Atau yang punya knalpot resing, kadang suaranya dulu yang muncul baru terlihat penampakan motornya. suaranya kenceng padahal lambat majunya. Atau misalnya lagi Motor Gede inginnya ditengah terus tak mau ke pinggir, jalannya kencang pula, apalagi kalau pakai power raider. Banyak yang mengutuk biasanya seperti pengguna kendaraan pribadi, tukang beca, pengemudi angkot. Ada nenek2 yang mau melintas tidak jadi karena kaget lalu berdoa: Ya Allah mudah2an masuk jurang #ehh.
3. Norak/ Riya / Pamer
Merasa ringan beribadah kalau disaksikan orang lain. Gemar melakukan kebaikan kalau bersama-sama dilakukan berjamaah, kalau sendirian berat. Senang dan bangga menunjukkan keberhasilan. Ini nih hasil saya !!!. Senang disanjung dipuji karena hal yang dilakukannya. Kalau tidak ada yang memuji pasti kecewa. Sikap mencari kehormatan dari manusia dengan cara memamerkan diri.
4. Galak / Pemarah
Bapak marah ke Ibu Ini kunci mana, mana kunci, mobil bisa dihidupkan, euh jalanan macet, stopan lampu merah lama lagi, angkot berhenti sembarangan, ini patung polisi lagi ngapain. Kapan sampainya kalau marah terus? Marah itu adalah pintu masuknya setan. Setan terbuat dari api. Api padam dengan air. Maka datangilah air ngeueum/berendam di air, #ehh wudhu maksudnya.
5. Iri / Dengki
Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang. Terus saja ingin menghilangkan kenikmatan orang lain. Kedengkian bisa memakan kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu bakar. Dengki tidak akan merubah nasib.
6. Licik
Menghalalkan segala cara, seperti pedagang curang dalam timbangan, nyontek di ujian, menipu dengan sumpah palsu.
Dari Berbagai Sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar