Pernahkah terpikirkan oleh kita kalau kesulitan makan dan
Ibu jauh dari kita. Tentunya sangat
tersiksa kalau sejak kecil sudah terbiasa menikmati enaknya hidangan buatan
Ibu, tidak ada yang bisa yang mengalahkan kelezatan yang luar biasa, walaupun
itu masakan koki terkenal, apalagi makanan Ibu gratisan adanya.
Dengan kasih sayangnya sentuhan tangan Ibu ketika memasak bisa melunakkan emosi anak-anaknya yang kelaparan. Melalui resep turun-temurun tentunya rasa yang asli tidak akan lekang oleh waktu. Kalau kita sengaja membeli makanan, tentunya sangatlah mahal, seperti nasi kuning di tetanggaku sekarang harganya sekira Rp. 6.000 seporsinya, padahal dulu sekali cukup dengan Rp. 1.000 bisa mendapatkan seporsi nasi yang sangat enak. Apalagi kalau beli di kafe atau minimarket minimal harganya Rp. 15.000. Bandingkan kalau buatan Ibu kita bisa makan sepuasnya. Atau tetangga sebelah depan rumahku, dia masih sempat-sempatnya pulang ke rumah di saat istirahat siang dari pekerjaannya di suatu bank swasta, karena selalu ingin mencicipi masakan Ibunya sendiri dibandingkan dengan membelinya di kantin ataupun warung sekitar. Ini bukan persoalan harga makanan, tapi kecintaannya yang sangat kepada masakan yang dibuat oleh tangan Ibunya sendiri.
Dengan kasih sayangnya sentuhan tangan Ibu ketika memasak bisa melunakkan emosi anak-anaknya yang kelaparan. Melalui resep turun-temurun tentunya rasa yang asli tidak akan lekang oleh waktu. Kalau kita sengaja membeli makanan, tentunya sangatlah mahal, seperti nasi kuning di tetanggaku sekarang harganya sekira Rp. 6.000 seporsinya, padahal dulu sekali cukup dengan Rp. 1.000 bisa mendapatkan seporsi nasi yang sangat enak. Apalagi kalau beli di kafe atau minimarket minimal harganya Rp. 15.000. Bandingkan kalau buatan Ibu kita bisa makan sepuasnya. Atau tetangga sebelah depan rumahku, dia masih sempat-sempatnya pulang ke rumah di saat istirahat siang dari pekerjaannya di suatu bank swasta, karena selalu ingin mencicipi masakan Ibunya sendiri dibandingkan dengan membelinya di kantin ataupun warung sekitar. Ini bukan persoalan harga makanan, tapi kecintaannya yang sangat kepada masakan yang dibuat oleh tangan Ibunya sendiri.
Dengan keadaan tersebut, kalau kita sering mengeluh karena
makanan kurang enak, kurang mahal atau apapun itu, harusnya bersyukur masih
diberi kenikmatan untuk makan. Coba perhatikan orang-orang yang mengalami
musibah banjir ataupun longsor sekarang ini, mereka kesulitan untuk makan sehari-hari,
mengandalkan bantuan dari donatur, menu seadanya dan belum tentu enak. Malah
biasanya mereka mengandalkan sesuatu yang instan, seperti Mie. Karena kalau
terlalu lama mengonsumsi yang demikian itu tidak terlalu bagus buat kesehatan
mereka. Harusnya menu bergizi yang diberikan oleh donatur yang menyumbang demi
kesehatan mereka nantinya.
Makanya mulai sekarang marilah kita selalu bersyukur atas
semua makanan yang dibuat oleh Ibu karena sesungguhnya segala yang diberikan
olehnya adalah karena keikhlasan seorang Ibu dalam menyayangi anak-anak dan
suaminya. Kalaupun rasanya agak hambar, harus tetap disyukuri dan dinikmati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar